Tampilkan postingan dengan label nihil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nihil. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2011

Tentang sebuah wajah

Saya sedang menunggu seorang bapak tukang sepatu yang sedang membetulkan keadaan sepatu saya yang compang-camping di depan rumah. Saya berada di kamar, di depan laptop yang menyala sepuluh menit yang lalu. Sebelum itu saya duduk di teras, berhadapan dengan bapak tua yang fokus dengan pekerjaannya. Muncul saja tiba-tiba ide untuk membuat tulisan tentang beliau. Tentang sebuah wajah dengan cerita kehidupannya.
Saya jadi bertanya-tanya pada diri sendiri, tentang satu sosok lelaki di depan rumah saya itu. Apakah dia punya anak, istri? Berapa penghasilan yang bisa dia bawa kerumah? Bagaimana kalau dia tidak membawa uang ketika nanti pulang? Dan berbagai pertanyaan lain yang beredar seliar-liarnya di kepala. 
Wajahnya tua, tetap saja terserang matahari meski mengenakan topi caping itu. Ketika pertama kali Ibu memanggilnya, satu senyum terpancar dari wajah itu. Wajah yang masih bisa selalu tersenyum meski bisa saja nanti ketika pulang dia hanya membawa uang yang tidak seberapa. Dengan sepeda tua dia mencari nafkah untuk keluarga yang sedang menunggunya dirumah. Kotak kayu dari bahan triplek menjadi teman perjalanannya dimanapun dia berjalan berputar, entah hujan atau panas datang. Dia tetap mengayuh pelan sepedanya, dengan teriakan khasnya “Sol sepatu”. Beberapa jahit dan ketukan palu sudah sangat berarti bagi hidupnya, karena baginya itu adalah satu harapan yang tercipta baginya hari ini. Entah, apa mungkin besok atau lusa alat-alat yang ia bawa masih akan terasah dalam bidangnya, atau malah hanya diam. 
Lima belas menit menunggu, ternyata beliau sudah selesai menyelesaikan pekerjaannya. 
Semoga sepeda itu masih bisa membawanya berkeliling, menjual jasa perbaikan sepatu dengan kotak kayu yang tidak terburu menjadi rapuh karena hujan dan matahari. Semoga senyumnya masih terkembang dan ayun kakinya masih kuat untuk memaknai kehidupan. 


Samedi, 23 Avril 2011

Senin, 18 April 2011

Hanya sekedar ingatan ada apa hari ini



Pagi-pagi saya terbangun dan terpanggil setelah membaca pesan singkat dari yayan, teman saya yang juga ketua umum teater lingkar fakultas. Mengingatkan saya untuk segera datang ke diklat alam di coban jahe, sekitar 30 km dari tempat saya tinggal. Setelah membereskan diri dan mengumpulkan nyawa, saya berangkat dengan membawa serta celana ganti dan sandal jepit untuk disana. Setelah sempat singgah sebentar untuk mengisi bensin di daerah rampal saya melanjutkan perjalanan yang saya tempuh tanpa teman bicara alias sendirian. Hanya mengguman dan berdendang kecil yang bisa saya lakukan di perjalanan agar tidak lagi merasa ngantuk dan terlalu berlebihan merasakan kaki yang kram efek dari olahraga kemarin hari. Sudah hampir satu jam perjalanan saya mendapatkan pesan singkat yang lagi-lagi dari Yayan Surayan yang memberi petunjuk dimana tepatnya lokasi diklat. Rupanya saya sudah sempat mengenal area tersebut setelah beberapa bulan lalu saya dua kali datang kesitu untuk sekedar membaca di sebuah perpustakaan yang luar biasa. Setelah sempat beberapa kali salah jalan hingga ke pelosok-pelosok dan bertemu dengan jalan berbatu akhirnya saya bisa menemukan jalur yang tepat menuju area coban. 
Jalan yang saya tempuh awalnya biasa-biasa saja, mungkin hanya jalan berbatu yang hampir membuat saya merasa seperti naik unta di kebun binatang. Dan akhirnya saya berhasil menemukan belokan terakhir menuju coban setelah sebelumnya bertanya pada seorang bapak tua penjual pisang. Mulai dari sini, mungkin saya patut berucap syukur pada Tuhan.
Saya mulai memasuki jalan yang saya rasa tidak pantas dimasuki oleh kendaraan bermotor terlebih lagi ketika musim penghujan datang. Beberapa kali roda motor yang saya kendarai selip akibat tumpukan lumpur yang menyelimuti roda  belakang. Setelah berusaha selihai atau lebih tepatnya sok lihai dalam mengendarai motor akhirnya saya terjungkal juga pada satu titik yang menanjak, berbatu dan berlumpur. Pada titik setelah saya melewati Taman Makan Pahlawan Kali Jahe di kanan jalan, saya terjerembab hampir masuk ke lahan yang berada di bawah. Untungnya ada seorang wanita berkacamata yang sedang menunggu suaminya mencari bambu yang menolong saya dan menceramahi saya bahwa jalur di depan tidak mungkin bisa dilewati karena licin. Akhirnya dengan motor, sepatu, celana dan hoodie yang belepotan lumpur saya diam sejenak disana sembari membersihkan diri dengan daun-daun yang gugur, dengan seadanya. Kemudian saya berusaha mengirim pesan singkat pada Surayan dan ternyata daerah tersebut sempat tidak terjangkau oleh sinyal. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya saya memutuskan untuk kembali pulang ( suatu hal yang bodoh sekali ) karena hasrat untuk pijat sangatlah tinggi setelah badan ini tertimpa motor dan tangan ini salah dalam menumpu ketika jatuh. Akhirnya saya benar-benar pulang kembali ke rumah tanpa berhasil menemukan lokasi coban jahe yang sebenarnya, menemukan teman-teman saya yang pasti sedikit kesal dengan saya. Dan lagi-lagi, setelah melewati area TMP saya kembali terjungkal dan kembali bertemu akrab dengan lumpur-lumpur disana. 
Begitulah perjalanan bodoh yang saya lakukan, tanpa berhasil menemukan tujuan. Tapi untungnya saya berhasil menyadari bahwa dalam setiap kebodohan pun kita akan menemukan sesuatu untuk dicermati. Banyak hal yang seharusnya bisa saya nikmati sepulang dari Tumpang. Hanya untuk sekedar melihat bagaimana senyum ibu-ibu penjual cat di pinggir jalan yang menunggu seseorang membeli cat, bagaimana mencoba merasakan rasa khawatir yang dialami oleh seorang nenek yang duduk di atas kursi roda yang juga sedang diangkut diatas motor bak merk Hercules yang senantiasa menggenggam erat tangan suami disebelahnya, kepolosan anak-anak sekolah dasar di desa yang bersandar pada tiang jembatan menunggu ayahnya datang menjemputnya dengan membawa seikat rumput untuk pakan ternak dan lain sebagainya. 
Saya sadar bahwa perjalanan hari ini tidaklah sebodoh yang saya pikir. Terima kasih
Sabtu/ 16 Avril 2011 

Dilema Delima Dua

 Sudah lama semenjak terakhir kali kami berada disana, menghabiskan sore dengan mengobrol dan berbincang. Hingga petang dan malam menjelang tak terasa, berhasil menggerakkan seorang hansip tua untuk mengingatkan kami. Tentang cita rasa ale-ale rasa jeruk yang selalu menjadi menu utama disamping teh kotak dan sekotak susu ultra, disambut senyum pak rt dan kadang istrinya. Canda tukang mie yang ternyata beristri dua, selalu menjadi penanda bahwa sore mulai karam di tepi barat. Waktu bagi penjual tahu telor untuk memanjakan perut kami yang terkadang terlalu lapar dan garang. Sekali ketika ingin melaksanakan sholat, kantor Mas Solikin kadang cukup memungkinkan untuk dipakai beribadah. Dan sesekali Mas Yunus menyapa dengan senyum khasnya, bukan senyum angkuh tapi senyum akrab, yang membantu kami untuk bertahan sekali lagi disana. Jika saja hujan turun tiba-tiba tanpa permisi, warung Pak Di selalu sedia untuk kami semua menyelamatkan papan beroda yang bagi kami sebenarnya adalah teman, bukan alat atau penopang gaya semata. Baju boleh saja basah tapi papan harus tetap kering. Jikalau rasa lapar datang terlalu dini di awal sore, bakso 747 selalu menjadi idaman dengan kuahnya yang berbeda. Dan kadang seorang wanita muda yang masih gigih dan bersemangat menjual kue keliling menawari kami, setiap hari. Tanpa lelah tanpa canggung, berharap kami sekali waktu saja membeli kue penopang hidupnya. Ketika malam mulai larut, teriakan tukang sate mulai meraja. Seorang anak muda yang mendorong gerobak sate, diikuti sang ayah dibelakang yang rupanya mendidik anaknya untuk meneruskan mata pencaharian andalan keluarganya itu. Sembari itu kami bergegas, mengembalikan sepi pada tempatnya. Meninggalkan DELIMA dan berharap hujan enggan datang keesokan harinya.

Minggu, 03 April 2011

Don Juan

Waktu kecil dulu saya pernah sedikit bingung jika ditanya oleh bapak atau ibu Guru tentang apa cita-cita saya. Teman-teman yang lain ada yang menjawab ingin menjadi guru, dokter, tentara dan lain-lain. Saya baru menemukan jawaban untuk pertanyaan 17 tahun lalu itu sekarang. Saya sudah memutuskan ingin jadi penulis, entah menulis apapun itu karena saya baru sadar Tuhan memberikan sebuah anugerah yang sangat langka yaitu sisi Don Juan yang menghuni diri saya yang sawo matang ini. 
Don Juan adalah sebuah istilah yang ditemukan oleh teman-teman saya yang saya juga baru menyadari kalau selama ini saya mempunyai sifat itu. Artinya saya kurang begitu tahu tapi kalau boleh mengartikannya, Don itu dari bahasa Spanyol yang artinya sebuah gelar untuk orang-orang yang berpengaruh. Juan, mungkin hanya sebuah nama biasa asal Spanyol yang pada waktu dulu itu pernah menghebohkan masyarakat disekitarnya dengan sifat-sifat yang ia punya. Don Juan sama halnya dengan Cassanova yang dalam hidupnya selalu diisi dengan wanita-wanita.
Apa hubungannya Saya,jadi Penulis dan Don Juan kalau begitu?
Saya mendadak dikenal dengan julukan seperti itu alasannya adalah karena bla bla bla bla bla ( mungkin orang-orang di sekitar saya sudah tahu kenapa :). Terima kasih atas julukan yang diberikan pada saya, karena dengan begitu menunjukkan anda-anda semua sayang pada saya ini. Selalu saja ada dua hal yang bertentangan di dunia ini dan Tuhan memang menciptakannya seperti itu. Selalu ada susah senang, pro kontra, diam ramai, hidup mati dan sebagainya. Nah hal-hal seperti itu pula yang secara tidak langsung dibutuhkan oleh orang yang suka menulis, seperti halnya Andrea Hirata yang terjebak dalam dua oposisi tidak mampu dan berkecukupan dan akhirnya dia berhasil menghasilkan karya yang luar biasa ketika dia terjebak dalam satu posisi, ketidakmampuan. Dengan mengumpulkan kepedean saya berpendapat bahwa ketika saya terjebak dalam kedonjuanan itu, saya juga bisa dan mampu menghasilkan sesuatu nantinya yang berhubungan dengan kegiatan tulis menulis. Suatu hasil yang positif dan bukan negatif ( tapi anda boleh berspkeluasi sendiri apakah hal itu, saya suka mengijinkan manusia-manusia lain bebas untuk berpikir, hahaha ). Ada sebuah konsep pemikiran yang pernah saya ciptakan dan sempat saya sampaikan ke Dosen dan beberapa teman ketika kelas sastra berlangsung, pemikiran satu manusia hanya bisa berkenan dan berlaku bagi manusia itu sendiri dan tidak bagi manusia lainnya karena setiap manusia punya pemikiran yang sangat luas. Jadi adalah suatu yang mustahil jika ada pemikiran dua manusia yang benar-benar sejalan. Itulah kenapa selalu saja ada oposisi-oposisi yang tercipta, karena kita masih manusia yang punya pemikiran masing-masing.
Menjadi seperti ini bukan keinginan saya, bukan kehendak Tuhan cuma beberapa pemikiran yang keluar dari batas saja. Menjadi seperti ini juga bukanlah hal yang baik dan membanggakan karena saya sama sekali tidak bangga sedikitpun. Tapi ketika sampai di titik ini kemudian saya tahu bahwa segala yang dimulai juga harus segera dihentikan, seperti nanti saya akan mati karena saya telah berkesempatan untuk hidup.
Saya mencoba untuk menjadi seorang penulis yang baik dan berusaha meninggalkan sifat-sifat yang jelek. Setidaknya saya pernah mendapat banyak pelajaran dari beberapa kegagalan, keegoisan, penilaian-penilaian dan lain lain yang mungkin nanti bisa jadi tulisan saya, atau bahkan menjadi sebuah buku.
Terima kasih kepada semua yang pernah berada di dalam lingkaran hidup saya yang biasa-biasa saja ini, pada teman-teman yang selalu peduli dan sayang pada saya, dan pada setiap kesempatan yang bersedia datang dua kali :). 

Rabu, 30 Maret 2011

Manusia manusia impian

       Manusia adalah satu-satunya ciptaan tuhan yang sungguh sangat spesial diantara makhluk ciptaan lainnya. Spesial adalah suatu tingkatan yang tercipta oleh pemikiran manusia itu sendiri untuk mendapatkan suatu titik yang bernilai tinggi dan berbeda dengan titik-titik lainnya. Titik lainnya adalah seperti halnya sesuatu yang bersifat biasa, bermakna, tak bermakna, tak berarti dan masih banyak ungkapan lainnya. Perbedaan yang sangat mencolok antara manusia dengan hewan misalnya, yang bisa menjadi salah satu data pendukung kenapa “kita” pantas disebut sebagai makhluk spesial karena manusia mempunyai daya pikir yang berkembang dibanding dengan hewan yang hanya dianugerahi insting tanpa ada penyeimbang lainnya. Perbandingan seperti ini hanya merupakan salah satu contoh dari satu sudut pandang saja yang bisa kita lihat dalam realita kehidupan yang tengah kita jalani dengan segala elemen-elemen kehidupan yang sudah ada dan akan hadir dalam rangkaian waktu yang kita sebut kehidupan. 
Pemikiran manusia yang selalu berkembang adalah salah satu pendukung untuk menjadi suatu pertanda bahwa kehidupan masih terus berjalan. Hidup yang bertujuan untuk mencapai suatu titik yang bagi sebagian orang menyebutnya puncak kehidupan namun ada pula yang menganggap kematian sebagai tahap dimana manusia akan mengalami penataan ulang sistem yang berkesinambungan antara roh dan materi seperti halnya jiwa dan raga, atau bisa kita sederhanakan menjadi nyawa yang bersatu lagi dengan wujud nyata pelaku kehidupan namun dengan perantara yang berbeda yang biasa disebut reinkarnasi. Ada yang mengatakan bahwa manusia pertama kali berasal dari Adam dan Hawa (Islam) namun ada juga yang berpendapat bahwa manusia tercipta dari evolusi vertebrata atau kera (Teori evolusi Darwin). Lebih jauh sebelum kemunculan dua hal di atas, beberapa lainnya beranggapan bahwa bumi dan seluruh tata surya, galaksi dan alam semesta ini tercipta karena adanya suatu ledakan besar yang dikenal sebagai Teori Big Bang yang dari situlah muncul suatu partikel mini yang mengandung inti kehidupan dan kemudian menghasilkan tata surya seperti yang sudah kita ketahui sejak dari sekolah dasar. Jika dilihat dari sudut yang lebih tinggi lagi, sesungguhnya hanya terdapat keyakinan akan adanya Allah swt yang terlebih dahulu menciptakan atau menata alam semesta dan menghendakinya menjadi seperti sekarang ini, akan tetapi masih belum ada pemikiran yang membahas sesuatu yang lebih tinggi tentang asal usul kehidupan manusia dan alam semesta karena ada kaitannya dengan kekuasaan tuhan.
Pada akhirnya manusia lah yang akan menentukan bagaimana kondisi pemikiran yang berlaku dalam kehidupan selanjutnya. “Hanya ada satu bidang yang masih mempunyai kesempatan untuk berevolusi lebih lanjut yaitu dalam noosphere; dengan kata lain evolusi menyangkut manusia karena manusia adalah poros dan garis depan evolusi” ( Teilhard de Chardin )
Kesempurnaan yang menjadi tujuan akhir manusia sebenarnya adalah bukan kesempurnaan secara fisik atau secara nyata melainkan kesempurnaan secara batiniah atau kondisi di dalam manusia itu sendiri (pemikiran).
Oleh : Namung Maulidan

Hukum RI-mba

      Seharusnya kita itu berpikir. Berpikir jauh melebihi siapapun. Memikirkan jalan keluar dari segala kemelaratan bangsa, kesengsaraan individu, dan kekacauan yang simpang siur yang enggan beranjak dari tanah air ini. Coba temukan, temukan hitungan yang tepat akan sampai berapa lama penjajahan oleh kaum-kaum atas kepada kaum kelas bawah yang tak lain adalah saudara sebangsanya sendiri. Penjajahan kali ini bukanlah penjajahan yang terbuka, penjajahan yang diketahui oleh dunia-dunia luar sana. Penjajahan yang lebih modern dari sebelumnya, lebih tersusun rapi dan tanpa cacat jika dilihat dari luar. Mereka-mereka it uterus menggerus tak peduli dari dasar atau puncaknya. Seperti rayap yang berbondong-bondong menyerang serat kayu. Hingga tidak lagi menyisakan ruang, memberi tempat pada saudara sebangsa untuk mencicipi angin yang berhembus sepoi di puncak kehidupan. Bahkan dengan tega membiarkan mereka, kaum kelas bawah berputus asa, terlalu pasrah dengan kehidupan. Mereka mulai menggali-gali tanah tempat mereka terhempas dari atas sana. Menggali dengan tangan-tangan kasar mereka, tangan yang sudah terlalu lama mendamba sebungkus roti, semangkuk nasi dan segelas air putih. Tak peduli darah atau nanah mengotori tubuh dan kain lusuh yang mereka pakai. Mereka terus saja menggali berharap menemukan sesuatu untuk mengisi perut kosong mereka. Cacing-cacing tanah atau bahkan tikus got yang sudah menjadi bangkai di kedalamannya. Entah kapan hujan turun untuk pertama kalinya disini. Hujan yang mampu memberi sedikit kesegaran, memberi kehidupan pada sungai-sungai yang mengering, memberi sihir pada tanah gersang dan memberi kehidupan pada jiwa-jiwa yang terlantar, tersingkir di tengah percepatan jaman, tersungkur akibat keegoisan manusia sebayanya.
N.M

Harmoni

  Muncul sebuah pertanyaan di kepalaku pagi ini, tentang arti sebuah kata yang biasa disebut harmoni. Di saat bersamaan ketika aku mendengarkan sebuah karya dari sebuah band bernama PADI dengan lagu yang berjudul sama, harmoni. Ada satu bait yang selalu aku coba untuk memahaminya yaitu, kita terlahir bagai selembar kertas putih. Itulah alasannya aku menulis paragraf ini, dan aku lebih suka menyebutnya sebagai harmoni dalam hidup yang sering aku pertanyakan. 
Aku masih belum tahu benar apa arti dari harmoni itu sendiri akan tetapi aku bisa mengartikannya dengan kata-kata yang aku punyai sendiri tanpa harus ada kewajiban untuk serupa sempurna dengan orang-orang yang terlebih dulu mengartikannya hingga menjadikannya sebuah acuan atau panduan untuk mengartikan harmoni  tersebut. Aku tak pernah khawatir tentang permasalahan itu, malah aku lebih khawatir aku belum bisa menemukan susunan kata yang pas untuk menunjukkan pada orang lain apakah harmoni itu, menurutku. Kenapa menurutku? Dan bukan menurut orang lain? Karena setiap orang memang punya hak untuk berpendapat dan itu tercantum dalam undang-undang dasar. Jadi aku tak pernah merisaukan tentang pandangan egois padaku karena aku hanya menuntut hak tanpa harus menuntut orang lain untuk mengikuti atau sepaham dengan pendapatku.
Kembali pada pengartian harmoni menurutku.
Harmoni adalah sebuah perasaan yang hampir sama pemahamannya dengan kenyamanan namun lebih abstrak dari rasa nyaman itu sendiri. Kenyamanan adalah suatu perasaan yang kita dapatkan dari entah individu lain atau bisa saja dari sekitar kita, sekitar yang luas. Perasaan pas seperti halnya sepasang kaki kita yang akan merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa kita ucapkan dengan kata lain selain nyaman/enak ketika kita berhasil mendapatkan sepasang sepatu yang ukurannya juga pas dengan besar kaki kita. Tanpa ada paksaan dari dalam untuk mengatakan pada diri kita sendiri bahwa kita harus mengingkari kenyamanan itu dengan berkata bahwa sepatu yang kita dapatkan itu terlalu besar atau terlalu kecil. Karena kita telah mendapatkan harmoni yang kita butuhkan (bukan yang kita inginkan) dan segala pemikiran kita tak akan bisa mencoba mengingkarinya untuk menghindarinya, menjauh dari kenyamanan tersebut.
Lantas sebenarnya bagaimana cara mendapatkan keharmonisan itu ?
Manusia terkadang terlalu banyak bertanya sehingga menjadikannya terlalu banyak mengeluh juga. Bagiku bukan merupakan sebuah dosa untuk banyak bertanya akan tetapi kita juga harus bisa membatasi gejolak dalam diri kita ketika diri kita merasa belum puas dengan segala hal yang ada di sekitar kita, jika tidak gejolak itulah yang akhirnya bisa membawa kita menuju suatu tempat yang penuh dengan perasaan mengeluh karena kita tidak bisa mengkondisikan harmoni yang seharusnya sudah kita dapatkan akan tetapi kita malah membiarkannya tumbuh terlalu besar hingga mencapai titik keluhan atau perasaan gemar mengeluh. Jadi peran kita sebagai pengendali atas diri kita itu juga sangat amat penting dan bukan saja berperan dalam membatasi gejolak namun juga sangat berperan dalam hal lainnya juga.
Jadi biarkanlah kertas hidup itu tetap menjadi putih seperti seharusnya.

Dilema Dua Delima

Suatu percakapan kembali terbentuk setelah sempat beberapa saat memutuskan untuk berhenti karena beberapa alasan yang ada. Percakapan ringan sebagai tempat bertemu dengan muka-muka lama yang terasa baru. Ada yang sudah lama tidak bertemu dan ada yang sudah lama memutuskan untuk tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Singkat malam yang menjadi semacam pertemuan yang sengaja diciptakan untuk mencipta tawa dan canda yang berwarna. Betapa sesungguhnya mereka-mereka itu juga kehilangan meski bukan hal besar akan tetapi mereka pernah melewatkan waktu yang tidak sebentar disana, disuatu tempat bernama Delima. Tempat yang ketika waktu itu selalu mencipta suasana baru setiap harinya, ketika riuh ramai dan peluh keringat menandai hari yang cerah serta kekhawatiran yang terjadi di warung Pak Di saat hujan mendadak turun dan mematikannya. Ketika tidak hanya tercipta satu kesenangan disana, ada dua bahkan lebih dari hitungan yang pasti. Ada lebih dari satu pribadi dan individu yang pernah berada di sana, bersama membunuh sore hingga petang. Menjadi sesuatu yang asik meski tidak seperti suatu keluarga tapi setidaknya mereka-mereka pernah ada dan bersama. Kini mereka ingin kembali, meramaikan sepi yang sebelumnya merajai dan juga mengumpulkan tawa agar tercipta bahagia di masing-masing sisi kelam tiap individu. Semoga mereka segera kembali membunuh sore di suatu tempat bernama Delima. 

Kepada mereka : Danny, Jeprok, Samid, Angga, Mas Adek, Wahyu, Namung, Jafa, Wewe, Regy, Reksa, Joshua, Felix, Memet, Ucink, Frisma, Andrew, Pandu, Didi, Icunk, Kelana, Mas Samsul MSS, Mas-mas Ex Delima sing gak tak kenal, Mas-mas Panggung, Mas-mas CL, Mas-mas Velo, Mas-mas Mosk8ow dan bagi siapapun yang pernah, sering dan akan melewatkan waktu sorenya di Delima.