Sabtu, 10 Desember 2011

Dari atas kereta

Sebuah catatan perjalanan                                                                   Oktober 2011                                                             
Dari atas kereta itu
Gambar cepat bergerak
Berlalu sepintas dulu
Pencerminan manusia-manusia diam
Berserah diri pada rangkai besi
Yang satu mendamba istri baru, sebelahnya lagi aku tak begitu tahu
Sedang aku mendamba ruang
Dimana aku rindu untuk bisa terlentang, telanjang dan kemudian saling memandang
                                               
                                    (8 Oktober 2011, di suatu tempat yang tak kuketahui namanya)

Oleh oleh dari Jogjakarta

Sebuah catatan perjalanan                                                                   Oktober 2011
Petualang macam apa saya ini?
Beberapa minggu lalu saya sudah berhasil berkunjung ke Jakarta, selaku ibukota Indonesia dan kali ini kota yang beruntung untuk saya kunjungi adalah Jogjakarta.
Ini bukan merupakan catatan perjalanan harian, hanya saja saya bingung harus melakukan apa di atas kereta yang mengantarkan saya kembali pulang ke Malang.
Dini hari. Teman saya, Duduwi yang duduk tepat di samping saya terlihat tertidur pulas . Saya adalah satu-satunya manusia yang terasing malam itu. Pemandangan gelap makin menambah keuselessan, beruntung masih ada pemutar musik yang saya harap bisa meninabobokan saya. Alex Turner, Bob Dylan, The Morning Benders, Barry Manilow, Arthur Lee hingga Peterpan!!, semua saya dengarkan dan nikmati sendiri. Malang juga masih jauh, belum ada separuh jalan.
Kemon, kemon, kemon ……
Dan akhirnya bertemulah saya dengan pencerahan, dengan hal-hal yang bisa saya tulis sebagai hasil dari pengalaman selama berada di Jogjakarta.
Siang tadi saya sudah bertemu dengan teori subjektivitas, self-identity dan social identity yang disajikan ibu doesn dari salah satu universitas ternama di pulau Jawa. Alhamdulillah, saya mendapat cukup banyak ilmu dari seminar yang diselenggarakan di UNY. Saya juga belajar tentang nilai-nilai yang cukup unik, tentang bapak-bapak perwakilan CCCL Surabaya yang sungguh amat low profile!! ( Sengaja sedikit berlebihan). Tentang ilmu dan tentang hal lainnya.
Hah! Mulai buntu otak ini. Sampai disini.
Oia, tentang kota Jogjakarta. Disana saya bisa bebas menjadi apa yang saya mau tanpa harus merasa ringkuh untuk menjadi jelek, tidak keren atau tidak enak dipandang. Maklum saja, kala itu saya hanya mengenakan kaos oblong yang dibeli dari malioboro, celana pendek yang sobek semua sakunya dan juga sepatu hitam polos tanpa kaos kaki. Sebenarnya saya ingin berdandan seperti backpacker atau semacam turis lokal lah (karena mustahil jika aku ingin menjadi turis manca, karena wajah saya sangat tidak memadai) tapi yang ada malah dibilang gembel dan bocah petualang. Namun, bagi saya hal seperti itu tidaklah menjadi masalah, toh hanya penilaian orang lain yang sudah pasti tidak akan sama satu dan lainnya. Stay cool.
Saya sudah membeli tiga kaos oblong untuk saya sendiri, dua batik untuk adik dan ibu dirumah serta satu kemeja batik untuk ayah. Rencananya ketiga kaos oblong tersebut akan saya pakai kuliah setiap hari, jadi begini rumusnya : 6 Hari kuliah dibagi 3 kaos oblong = Tiap 2 hari sekali saya baru berganti baju. Terdengar konyol kah ? Saya rasa tidak juga.
Menurut saya hal seperti itu malah mengasyikkan. Saya bisa merasa nyaman dengan kondisi seperti itu, lagipula apalah arti penampilan luar kan lebih penting apa yang ada di dalam (hati terutama). Akan lebih baik lagi jika bisa seimbang antara keduanya sih.
Kesimpulannya, di kota Jogja saya berhasil memahami (meski belum banyak) bagaimana cara memandang identitas, subjektivitas, social identity dan setelah itu saya berhasil merealisasikan apa yang ingin saya lakukan, menjadi biasa, apa adanya dan tetap fokus dengan cita-cita.
Sudah. Akhirnya benar-benar buntu juga otakku malam ini, di atas kereta.

Anniversaire


Situasi yang tercipta ketika ini, perut baru saja kenyang setelah melahap semangkuk koko krunch, duduk di atas kasur busa, bersandar pada tembok yang penuh dengan segala absurditas remaja dan sesekali melirik ke tumpukan buku yang baru saja terbeli. Pertanyaan yang sedang berputar di kepala saat ini, apakah saya masih remaja? dan seberapa tuakah saya?.
Kings of Leon mulai melebur sepi dan mencipta rasa.
Twenty One. Dua puluh satu. Vingt et un. TIdak lagi remaja. Dewasa.
Apa arti 5 ungkapan di atas bagi seorang mahasiswa sastra seperti saya ini ? Bukan malah memperingatinya malah justru saya ingin berbincang dengannya, lebih intim, saling menelanjangi dan meringkasnya menjadi kecil agar bisa saya letakkan di dalam kepala yang berasa sudah mulai penuh karena semakin dewasa semakin banyak pula kekhawatiran yang kadang terlalu kita risaukan. Dan akhirnya seperti ini, saya berhasil membuatnya tidak terlalu memenuhi kepala, karena setelah saya pikir-pikir lagi memori laptop ini masih menyisakan tempat.
Dua dasawarsa plus satu, sampailah saya pada tahap ini. Tak juga terlalu tua tapi juga masa remaja yang sudah tak bersisa.
Dua dasawarsa plus satu. Dua puluh satu. Dimana seorang laki-laki mendadak menjadi pemalu bercerita tentang lampau waktu dulu dan juga mendadak bernafsu agar semua segera berlalu. 
Sebuah catatan perjalanan (02 Oktober 2011)


Minggu, 17 Juli 2011

Selamat Berjumpa Kembali

Adalah suatu pernyataan ketika saya mencoba kembali akrab dengan tulisan-tulisan, buku-buku dan beberapa pernyataan dari sekitar saya. Sudah cukup lama juga saya tidak menyentuh tumpukan buku-buku yang kini menjadi berdebu. Banyak buku yang masih belum selesai saya baca mulai dari fritjof capra - sains of Leonardo sampai buku tan malaka dibunuh - yunior hafidh henry. Saya sadar bahwa semakin banyak yang bisa saya dapat, semakin banyak pula yang harus saya tinggalkan, karena akhir-akhir ini justru saya lebih banyak disibukkan dengan hal-hal di luar soal buku ataupun menulis yang membuat saya lebih banyak mendapat ruang untuk hal-hal baru namun dengan konsekuensi buku-buku saya terlantar dan produksi kata-kata saya terhenti untuk sesaat. Cukup adil sepertinya jika memang harus seperti itu.
            Pukul 22.46, saya tidak lagi memakai kacamata karena mata sudah sedikit lelah berhadapan dengan layar laptop yang menyala. Sambil mencoba mempertahankan kesadaran agar tidak segera mengantuk, ditemani tembang-tembang dari Alex Turner – OST Submarine yang menurut saya sangat tepat untuk dijadikan pengantar tidur.
            Sebenarnya sampai disini saya bingung apalagi yang harus saya tulis, tapi ada juga yang pernah bilang tulis apa yang ingin kau tulis, apa yang ada di pikiranmu. Jadinya, saya memutuskan untuk menulis apa yang sedang ada di pikiran saya sekarang. Tanpa harus takut untuk meniadakan korelasi antara paragraph satu dengan selanjutnya atau menyamarkan inti tulisan yang sedang berusaha saya ketik ini. Saya tidak ingin sekedar menyimpulkan sesuatu, memberi pandangan utuh akan suatu hal tapi saya hanya ingin menulis.
            Rasa kekaguman saya akan ambigram masih saja melekat, padahal sudah beberapa minggu lalu sejak menonton angel & demons. Tapi juga sebenarnya bukan hanya soal ambigram, masih banyak juga yang lain yang ingin saya ketahui lebih jauh.
            Selain itu, baru saja saya mendapat kata-kata yang bagus ketika sedang menonton JLC tentang kasus prita. Disitu prita membuat pernyataan bahwa masih ada hal terbaik meski dalam suatu keburukan sekalipun.
            Saya juga masih mencoba membiasakan diri untuk mempelajari bagaimana menulis dengan tangan kiri. Bukan bermaksud untuk meniru gaya Leonardo tapi hanya ingin memicu keseimbangan antara otak kanan dan kiri saya.
            Semangat saya untuk menyelesaikan buku pertama masih timbul tenggelam. Baru 20 halaman yang saya ketik, untuk melanjutkannya terasa sangat berat karena saya terlalu malas.
            Berdoa agar kuliah diperlancar, besok pagi sudah mulai untuk kkn di Batu juga semoga diperlancar, skripsi juga semoga diperlancar dan diberi kemudahan. Ya, setidaknya diberi kemudahan untuk dapat beasiswa di Universite Toulouse le Mirail untuk jurusan filosofi dalam lingkup eropa, ya tapi itupun kalau Tuhan mengijinkan. Kalau tidak ya, cari beasiswa di UI entah itu jurusan yang sama atau berbeda. Kalau keinginannya ya bisa masuk jurusan yang berhubungan dengan pemikiran-pemikiran.
            Oia, setelah saya pikir-pikir nampaknya sudah cukup larut malam. Saya harus segera tidur untuk beberapa jam lagi bangun. Menunaikan apa yang sudah menjadi kewajiban saya sebagai makhluk Tuhan.
            Selamat datang dan selamat bersenang senang.

Senin, 02 Mei 2011

Tentang sebuah wajah

Saya sedang menunggu seorang bapak tukang sepatu yang sedang membetulkan keadaan sepatu saya yang compang-camping di depan rumah. Saya berada di kamar, di depan laptop yang menyala sepuluh menit yang lalu. Sebelum itu saya duduk di teras, berhadapan dengan bapak tua yang fokus dengan pekerjaannya. Muncul saja tiba-tiba ide untuk membuat tulisan tentang beliau. Tentang sebuah wajah dengan cerita kehidupannya.
Saya jadi bertanya-tanya pada diri sendiri, tentang satu sosok lelaki di depan rumah saya itu. Apakah dia punya anak, istri? Berapa penghasilan yang bisa dia bawa kerumah? Bagaimana kalau dia tidak membawa uang ketika nanti pulang? Dan berbagai pertanyaan lain yang beredar seliar-liarnya di kepala. 
Wajahnya tua, tetap saja terserang matahari meski mengenakan topi caping itu. Ketika pertama kali Ibu memanggilnya, satu senyum terpancar dari wajah itu. Wajah yang masih bisa selalu tersenyum meski bisa saja nanti ketika pulang dia hanya membawa uang yang tidak seberapa. Dengan sepeda tua dia mencari nafkah untuk keluarga yang sedang menunggunya dirumah. Kotak kayu dari bahan triplek menjadi teman perjalanannya dimanapun dia berjalan berputar, entah hujan atau panas datang. Dia tetap mengayuh pelan sepedanya, dengan teriakan khasnya “Sol sepatu”. Beberapa jahit dan ketukan palu sudah sangat berarti bagi hidupnya, karena baginya itu adalah satu harapan yang tercipta baginya hari ini. Entah, apa mungkin besok atau lusa alat-alat yang ia bawa masih akan terasah dalam bidangnya, atau malah hanya diam. 
Lima belas menit menunggu, ternyata beliau sudah selesai menyelesaikan pekerjaannya. 
Semoga sepeda itu masih bisa membawanya berkeliling, menjual jasa perbaikan sepatu dengan kotak kayu yang tidak terburu menjadi rapuh karena hujan dan matahari. Semoga senyumnya masih terkembang dan ayun kakinya masih kuat untuk memaknai kehidupan. 


Samedi, 23 Avril 2011

Senin, 18 April 2011

Hanya sekedar ingatan ada apa hari ini



Pagi-pagi saya terbangun dan terpanggil setelah membaca pesan singkat dari yayan, teman saya yang juga ketua umum teater lingkar fakultas. Mengingatkan saya untuk segera datang ke diklat alam di coban jahe, sekitar 30 km dari tempat saya tinggal. Setelah membereskan diri dan mengumpulkan nyawa, saya berangkat dengan membawa serta celana ganti dan sandal jepit untuk disana. Setelah sempat singgah sebentar untuk mengisi bensin di daerah rampal saya melanjutkan perjalanan yang saya tempuh tanpa teman bicara alias sendirian. Hanya mengguman dan berdendang kecil yang bisa saya lakukan di perjalanan agar tidak lagi merasa ngantuk dan terlalu berlebihan merasakan kaki yang kram efek dari olahraga kemarin hari. Sudah hampir satu jam perjalanan saya mendapatkan pesan singkat yang lagi-lagi dari Yayan Surayan yang memberi petunjuk dimana tepatnya lokasi diklat. Rupanya saya sudah sempat mengenal area tersebut setelah beberapa bulan lalu saya dua kali datang kesitu untuk sekedar membaca di sebuah perpustakaan yang luar biasa. Setelah sempat beberapa kali salah jalan hingga ke pelosok-pelosok dan bertemu dengan jalan berbatu akhirnya saya bisa menemukan jalur yang tepat menuju area coban. 
Jalan yang saya tempuh awalnya biasa-biasa saja, mungkin hanya jalan berbatu yang hampir membuat saya merasa seperti naik unta di kebun binatang. Dan akhirnya saya berhasil menemukan belokan terakhir menuju coban setelah sebelumnya bertanya pada seorang bapak tua penjual pisang. Mulai dari sini, mungkin saya patut berucap syukur pada Tuhan.
Saya mulai memasuki jalan yang saya rasa tidak pantas dimasuki oleh kendaraan bermotor terlebih lagi ketika musim penghujan datang. Beberapa kali roda motor yang saya kendarai selip akibat tumpukan lumpur yang menyelimuti roda  belakang. Setelah berusaha selihai atau lebih tepatnya sok lihai dalam mengendarai motor akhirnya saya terjungkal juga pada satu titik yang menanjak, berbatu dan berlumpur. Pada titik setelah saya melewati Taman Makan Pahlawan Kali Jahe di kanan jalan, saya terjerembab hampir masuk ke lahan yang berada di bawah. Untungnya ada seorang wanita berkacamata yang sedang menunggu suaminya mencari bambu yang menolong saya dan menceramahi saya bahwa jalur di depan tidak mungkin bisa dilewati karena licin. Akhirnya dengan motor, sepatu, celana dan hoodie yang belepotan lumpur saya diam sejenak disana sembari membersihkan diri dengan daun-daun yang gugur, dengan seadanya. Kemudian saya berusaha mengirim pesan singkat pada Surayan dan ternyata daerah tersebut sempat tidak terjangkau oleh sinyal. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya saya memutuskan untuk kembali pulang ( suatu hal yang bodoh sekali ) karena hasrat untuk pijat sangatlah tinggi setelah badan ini tertimpa motor dan tangan ini salah dalam menumpu ketika jatuh. Akhirnya saya benar-benar pulang kembali ke rumah tanpa berhasil menemukan lokasi coban jahe yang sebenarnya, menemukan teman-teman saya yang pasti sedikit kesal dengan saya. Dan lagi-lagi, setelah melewati area TMP saya kembali terjungkal dan kembali bertemu akrab dengan lumpur-lumpur disana. 
Begitulah perjalanan bodoh yang saya lakukan, tanpa berhasil menemukan tujuan. Tapi untungnya saya berhasil menyadari bahwa dalam setiap kebodohan pun kita akan menemukan sesuatu untuk dicermati. Banyak hal yang seharusnya bisa saya nikmati sepulang dari Tumpang. Hanya untuk sekedar melihat bagaimana senyum ibu-ibu penjual cat di pinggir jalan yang menunggu seseorang membeli cat, bagaimana mencoba merasakan rasa khawatir yang dialami oleh seorang nenek yang duduk di atas kursi roda yang juga sedang diangkut diatas motor bak merk Hercules yang senantiasa menggenggam erat tangan suami disebelahnya, kepolosan anak-anak sekolah dasar di desa yang bersandar pada tiang jembatan menunggu ayahnya datang menjemputnya dengan membawa seikat rumput untuk pakan ternak dan lain sebagainya. 
Saya sadar bahwa perjalanan hari ini tidaklah sebodoh yang saya pikir. Terima kasih
Sabtu/ 16 Avril 2011 

Dilema Delima Dua

 Sudah lama semenjak terakhir kali kami berada disana, menghabiskan sore dengan mengobrol dan berbincang. Hingga petang dan malam menjelang tak terasa, berhasil menggerakkan seorang hansip tua untuk mengingatkan kami. Tentang cita rasa ale-ale rasa jeruk yang selalu menjadi menu utama disamping teh kotak dan sekotak susu ultra, disambut senyum pak rt dan kadang istrinya. Canda tukang mie yang ternyata beristri dua, selalu menjadi penanda bahwa sore mulai karam di tepi barat. Waktu bagi penjual tahu telor untuk memanjakan perut kami yang terkadang terlalu lapar dan garang. Sekali ketika ingin melaksanakan sholat, kantor Mas Solikin kadang cukup memungkinkan untuk dipakai beribadah. Dan sesekali Mas Yunus menyapa dengan senyum khasnya, bukan senyum angkuh tapi senyum akrab, yang membantu kami untuk bertahan sekali lagi disana. Jika saja hujan turun tiba-tiba tanpa permisi, warung Pak Di selalu sedia untuk kami semua menyelamatkan papan beroda yang bagi kami sebenarnya adalah teman, bukan alat atau penopang gaya semata. Baju boleh saja basah tapi papan harus tetap kering. Jikalau rasa lapar datang terlalu dini di awal sore, bakso 747 selalu menjadi idaman dengan kuahnya yang berbeda. Dan kadang seorang wanita muda yang masih gigih dan bersemangat menjual kue keliling menawari kami, setiap hari. Tanpa lelah tanpa canggung, berharap kami sekali waktu saja membeli kue penopang hidupnya. Ketika malam mulai larut, teriakan tukang sate mulai meraja. Seorang anak muda yang mendorong gerobak sate, diikuti sang ayah dibelakang yang rupanya mendidik anaknya untuk meneruskan mata pencaharian andalan keluarganya itu. Sembari itu kami bergegas, mengembalikan sepi pada tempatnya. Meninggalkan DELIMA dan berharap hujan enggan datang keesokan harinya.